22
May
08

Updates! Updates!

Hello,

Sorry for the lack of update these days. We’ve been very busy, preparing for our event which hopefully will be held in June. Unfortunately, the microsite isn’t ready yet so we can’t provide any link for you to read on. But, we’ll do give you some news, soon! So please, wish us luck.

Thanks heaps,

The Cure For Tomorrow

19
Apr
08

What are you doing on Earth Day?

Dear Folks,

Next Tuesday, April 22 — to be exact, is Earth Day!

What are you doing on that day? Actually, since we’re busy on preparing our next event (yes, yes, the art summit, we’ll tell you about it later on), stay tuned on something in the radio!

Please scroll your tuning section on the radio to TRAX FM, which will be on 101.4 FM on Tuesday, April 22, 2008. To be specific, listen to the program MORNING ZONE with Melanie “Melar” Ricardo and IchBar.. you will hear a thing or two (or hopefully more) about The Cure For Tomorrow.

We’ll never reach this far without your support. Thank you.

Regards,

The Cure For Tomorrow

26
Mar
08

Banner!

Post this banner to your site/profile/anything, kids!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

<a href=”http://www.thecurefortomorrow.org”><img src=”http://i110.photobucket.com/albums/n105/thecurefortomorrow/thecurefortomorrowbyAizato.gif” border=”0″ alt=”Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket”/></a>

16
Mar
08

Add us!

Guess what? The Cure For Tomorrow is on your (most popular) social networking websites!

First, you need to add our e-Newsletter! Surf: Click here or simply send a blank e-mail to TCFT-subscribe@yahoogroups.com.

Then, add us on the following (most) popular websites on the net!


www.friendster.com/thecurefortomorrow
thecurefortomorrow@yahoo.co.id


www.myspace.com/thecurefortomorrow
thecurefortomorrow@yahoo.co.id

Become TCFT’s fan on Facebook!

Make sure that we’re on your friend list, fellas!

15
Mar
08

How do you reduce global warming’s effect?

Take a look at this picture. So funny, and explains effective ways to do it.

 

We just wanted to say a simple hello, guys. Long time without updates!

10
Nov
07

Declare Your Commitment!

If you have committed to dispose your garbage and waste properly, reduce waste, and use eco-friendly products, please sign the declaration.

Navigate your browser to the following address:

It’s time to act. NOW.

30
Oct
07

Have you heard of Keranjang Takakura?

A few days ago, Fajar Nugraha posted something about “Keranjang Takakura”. Take a look about it.

Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang “sakti” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.

Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang “memakan” sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang deikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method” yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura…”

For further readings, please click Olah Sampah on Multiply.  You can also check Keranjang Takakura’s blog by surfing to http://keranjangtakakura.blogspot.com.
Foto diperoleh dari sini.
24
May
07

TRAX FM’s Broadcasters Meeting

Anggie and I were invited to attend broadcasters meeting in TRAX FM Radio (Sarinah Office Tower, 8th Fl.). Unfortunately, Anggie and Aisha couldn’t come, so I went all alone there by TransJakarta from school.

Rachel Panjaitan was the one who invited us, she’s a program producer and Anggie’s friend. TCFT was invited to present about TCFT in front of TRAX’s broadcasters. There were Cheryl (MTV VJ Hunt 2007 finalist), Sisca Baker (MRA Media’s off-air events presenter), Kemal (O Channel’s “Jali-jali” presenter), Taufik, Ocha, Yudith, Sandra, and others who were very enthusiast to hear my explanation about TCFT. Tiko was very excited and directly commented that Indonesian society are not get used to trash bins because there are too less of them.

After explaining about TCFT and answered their questions, Sisca Baker forced me to take my voice over. Oops.. I had to speak about my “Buanglah sampah pada tempatnya” campaign, on behalf of TCFT for their program next month.

Stay tuned in TRAX FM, their campaign in June 2007 is “I love you, Mother Nature!”. So, you can listen to facts about environment, further discussions about global warming phenomenon, reduce-reuse-recycle, etc., through their special programs, such as: Letter to Mother Nature, Voice of Mother Nature, Mother Nature makes me wanna la la,

Become one of youth’s ambassadors like us!

17
May
07

Banjarsari’s Waste Management

Siang ini, TCFT mengunjungi Kampung Banjarsari, Cilandak Barat, yang beberapa bulan yang lalu mendapat predikat “Kampung Hijau” dari Gubernur DKI Jakarta. Turun dari Apotik Ratna, Cilandak, Anggie pun menjadi tour guide karena ia pernah tinggal di daerah tersebut.

kampung-banjarsari.jpg

Sightseeing… First impression? Satu kalimat: nggak kayak di Jakarta. Di setiap rumah yang kami lewati memiliki pot-pot besar berisi tumbuhan di depan rumah mereka masing-masing. Di depan rumah Ketua RW, kami bahkan menemukan tiga tabung horizontal dengan tiga warna yang berbeda, untuk membedakan di antara sampah basah, sampah organik dan anorganik. Suasananya berasa seperti di pedesaan, meskipun ada terik matahari, tetapi udaranya terasa sangat sejuk. Satu hal lagi yang membuat kami amazed adalah, tidak ada satupun sampah yang berada di jalanan.

bebas-jentik.jpg


Kami pun mampir ke “Warung Dua Satu”, sebuah rumah di hook, di seberang rumah Pak RW (yang pada saat itu sedang tidak ada di tempat). Kami berkenalan dengan Ibu Agustin Riyanto—sang pemilik rumah, yakni salah seorang warga yang aktif membenahi lingkungan di komplek tersebut. Beliau pun menceritakan asal muasal mengapa kompleks tersebut disebut “Kampung Hijau”.

recycled-paper.jpg

Pada awalnya memang sudah ada kerjasama dengan Dinas Pertanian, dalam bentuk Kelompok Wanita Tani, di mana warganya diajarkan untuk menanam berbagai macam tumbuhan dan membasmi hama. Setelah itu, tepatnya pada tahun 1998, UNESCO menawarkan kerjasama dan memberikan penyuluhan mengenai penghijauan, pemilahan sampah, dan melatih masyarakat setempat untuk mendaur ulang kertas dan membuat pupuk kompos. Selain itu, Ibu Agustin juga dikursuskan oleh kelurahan tentang jenis-jenis tanaman obat dan cara pengolahannya di Bogor. Alhasil, beliau pun membuka toko tanaman obat di rumahnya. Selain menjual bibit tanaman obat dan pupuk kompos, beliau juga memberi pelatihan daur ulang bagi anak-anak maupun remaja yang berminat mempelajarinya. Seperti mendaur ulang kertas, membuat pupuk cair, dan lain-lain. Kami juga melihat kertas yang dihasilkan oleh beliau, benar-benar mirip seperti kertas HVS, hanya sedikit lebih tebal dan permukaannya agak kasar.

sampah-basah-bukan-untuk-kompos.jpg

sampah-organik-untuk-kompos.jpg

sampah-plastik-kaleng-metal.jpg

Banjarsari bisa menjadi “Kampung Hijau” karena kesadaran masyarakatnya yang tinggi. 60% penduduk setempat memilah sampah di rumah masing-masing, minimal menjadi dua kategori, yakni organik dan anorganik. Sebisa mungkin, sampah organik mereka jadikan pupuk kompos dengan cara menimbunnya di tanah yang diurug (teknik landfill) dan menyiramkan bahan kimia EM4 untuk menghilangkan baunya. Dalam tiga hari, sampah tersebut sudah bisa digunakan menjadi pupuk kompos. Ibu Agustin bahkan menggunakannya sebagai media tanam untuk menggantikan tanah.

Selain itu, Ibu Agustin juga memberi informasi bahwa di Bekasi ada seorang bapak yang berwirausaha di bidang pengolahan sampah, segala macam jenis sampah bisa ia olah menjadi suatu hal yang berguna untuk dijual, menggunakan alat-alat pencacah yang harganya memang relatif mahal. Ia memulai usahanya dari bawah, sampai sekarang sudah bisa membeli mobil hanya karena menjual hasil daur ulang. Anak-anak Universitas Indonesia (UI) saja membuat dekomposer dengan modal kurang dari Rp50.000,- untuk tugas OSPEK! Jadi sepertinya, penyediaan alat tidak menjadi kendala. Tinggal meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hal ini.

Insya Allah di Bulan Juni mendatang, TCFT akan mengunjungi “Warung Dua Satu” untuk mempelajari teknik daur ulang kepada Ibu Agustin supaya bisa berbagi ilmu kepada sesama remaja dan bahkan menerapkannya di lingkungan sekitar. Supaya tidak hanya Banjarsari yang menjadi “Kampung Hijau”, jadikan Jakarta “Kota Hijau“!

16
Apr
07

TCFT’s Profile in Hai Magazine

TCFT on Hai Mag #16/2007TCFT’s profile is published in today’s edition (No. 16 Th. XXXI) of Hai Magazine, one of the biggest teen mag in Indonesia, together with WWF (World Wildlife Fund), Greenpeace and WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).  Really, it is such an honour!

In that box on the right of the page, you can read testimonials from Aishanatasha (founder and vice president of TCFT) and Chandra (treasurer of TCFT) about environment.

Thank you so much for Hai Magazine, especially Erick, for giving such opportunity for us.

Anyways, we got plenty of SMS, asking about participating in TCFT from all around Indonesia because of this publication. Thank you for your support, everyone!